KARINA : Aku adalah gadis buta.




Aku melihat semesta
Dengan biru matamu kulihat samudera
Aku ingin jatuh
Tenggelam bersama asa

Aku melihat semesta
Pada senyummu akhirnya kulihat purnama
Aku ingin menari
Hingga lupa aku sudah tak bernyawa



Hidup bagi sebagian besar orang adalah sebuah perjalanan indah yang penuh hal-hal menarik untuk digapai dan dialami. Sebagian lagi, menganggapnya sebagai sebuah batu loncatan ke sebuah masa yang lebih panjang dan kekal. Segelintir lain menganggapnya sebagai sesuatu hal yang tak semestinya mereka jalani, tak semestinya ada.

Aku Karina. Di antara golongan orang dengan berbagai persepsinya mengenai kehidupan, aku adalah sebagian sangat kecil yang sama sekali tak punya ide untuk menggambarkan hidupku sendiri yang sedang kujalani. Aku buta sejak lahir. Sejak saat aku menyadari bahwa orang lain memiliki dunia yang lebih terang dan berwarna dari yang kumiliki, kupikir, untuk apa Tuhan menciptakanku “seistimewa” ini? Jika aku menjadi Dia, aku akan menggunakan kuasaku untuk menciptakan sesuatu yang lebih berguna di bumi ini ketimbang menciptakan seorang gadis buta.

Namun ternyata, seiring aku beranjak dewasa, aku mengerti bahwa tak ada suatu kehidupan terkecil pun yang luput dari perencanaanNya. Dia mengatur seluruh urusan (makhluk-Nya)1, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya2. Dia mengurangi kemampuanku melihat untuk menciptakan hati yang jauh lebih kuat. Dia tak mengijinkanku memandang dunia untuk mengasah hatiku menjadi jauh lebih peka. Dia membiarkan aku terlunta-lunta menguak kejutan-kejutan yang sudah Dia siapkan sejak lama.

Aku Karina. Gadis buta yang berusaha menjemput kebahagiaannya.




***



Jakarta, 29 Februari 2000



“Selamat ulang tahun, anak Ayah. Semoga di umur kamu yang menginjak kepala dua ini kamu akan jauh lebih dewasa tanpa berhenti jadi malaikat kecil Ayah yang lucu. Tiup lilinnya ya, ini di depan kamu. Satu... dua.. ti...”

Saat Ayah mengatakan “ga”, aku menghembuskan udara dari mulutku ke arah depan. Aroma khas api yang padam menyeruak ke dalam hidungku. Ayah menyuruhku membuka mulut, lalu seketika aku merasakan sesuatu yang lembut dan manis memenuhi rongga mulutku. Kata Ayah, itulah rasanya krim vanilla, ditambah tekstur agak kasar dengan rasa cokelat dari brownies yang ia suapkan ke mulutku.

“Terima kasih, Yah,”

Aku memeluk lelaki di depanku dengan penuh rasa sayang. Lelaki yang selama ini selalu ada untukku meski tak pernah sekalipun aku melihat wajahnya. Aku sering memeluknya. Dalam benakku, Ayah memiliki tubuh yang tinggi tegap. Aku pernah bersandar di pundaknya yang lebar atau membenamkan wajahku di dadanya yang bidang. Aku sering meraba wajahnya. Ia memiliki hidung yang mancung dan besar, alis yang tebal, dan rambut ikal yang sepertinya selalu ia rapikan. Aku bersumpah, jika seandainya aku bisa melihat, ia adalah yang pertama dan satu-satunya lelaki yang membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Tapi, ah, tidak juga, aku bahkan sudah begitu mencintainya dengan sepenuh hatiku sejak saat pertama kali aku tau bahwa aku memilikinya, satu-satunya yang paling berharga yang kupunya di dalam hidupku.

Ya, satu-satunya. Aku hanya hidup berdua dengan Ayah. Ibuku meninggal saat melahirkanku dan Ayah tidak pernah ingin menikah lagi karena ingin sepenuhnya merawatku. Setidaknya itulah yang aku tau dari Ayah tentang hidupku.

“Karin, Ayah mau ngomong sesuatu yang serius,”

“Apa itu, Yah?”

“Sebentar lagi, kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini, Sayang.”

“Maksud Ayah?”

Aku menghentikan kunyahanku dan menelan sisa kue di dalam mulutku secara paksa. Kuhadapkan tubuhku ke arah kiri, ke arah suara Ayah.

“Sewaktu pulang kerja kemarin sore, ayah bertemu dengan teman lama ayah, Pak Gerry. Dia seorang dokter bedah professional sekarang. Kamu tau apa, Sayang? Dia bilang dia punya seorang pasien yang sedang mencari recipient3untuk donor matanya,”

“Jadi, maksudnya, Ayah ingin aku yang jadi calon recipient-nya?”

“Tentu. Lusa Ayah akan segera bawa kamu menemui Dokter Gerry untuk melakukan serangkaian tes. Semoga kamu bisa menjadi recipient-nya yang cocok. Kamu akan segera bisa melihat, Sayang!”

Aku merasakan ada sesuatu yang menggenang di pelupuk mataku. Meski buta, aku tetap bisa menangis, sama seperti kalian. Bahkan, kurasa perasaanku jauh lebih rapuh dan rentan merasakan sesatu. Tidak peduli jika aku terlalu senang atau sedih, aku akan menangis. Menangis adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan dengan mataku.

Dalam pelukan Ayah, kini, aku merasakan perasaan yang sama persis saat pertama kali Ayah mengangkat dan melambungkan tubuhku di udara ketika aku masih kecil. Kalimat “bisa melihat” bagiku mungkin kalimat yang memiliki arti yang sama dengan “gajah bisa terbang menggunakan sayapnya” atau “ayam bisa menyelam” di benak kalian; mungkin saja terjadi hanya jika Tuhan memberikan keajaibanNya. Sebentar lagi, jika semuanya sesuai dengan harapan, aku akan membuka mataku dan tak akan ada lagi kegelapan yang kulihat. Aku akan merasakan apa yang kalian rasakan saat terbangun di pagi hari, melihat kamar kalian, melihat ke luar jendela. Aku akan melihat dunia, membaca buku-buku yang bagus, aku akan melukis, belajar memasak makanan yang enak untuk Ayah. Ya Tuhan, kupikir aku tidak akan bisa tidur selama tiga hari jika aku benar-benar bisa melihat nanti!

“Terima kasih Ayah, Karina seneng banget!”

“Sama-sama, Sayang. Ayah juga senang,”

Kupeluk Ayah erat-erat, tak ingin kebahagiaan ini pergi kemana-mana, kukunci di dadaku dan dada Ayah, kulindungi dengan pelukku.

Ayah, sebentar lagi aku akan bisa melihat. Aku akan membahagiakan Ayah!





1. Q.S. Ar-ra’d : 2
2. Q.S. Al-An’aam : 59
3. Penerima

Komentar

Postingan Populer