24




"Love at the first sight is easy to understand; it's when two people have been looking for each other for a lifetime that it becomes a miracle."
- Amy Bloom


Setiap orang pernah merasakan jatuh cinta berkali-kali; pada selimut yang ditarik ketika tengah malam angin berhembus mengenai tengkuk, pada embun yang ditinggalkan hujan pada kaca jendela lalu kau menggunakan telunjuk untuk menulis sebuah nama, atau pada rasa gurih yang terkecap dari kuah sup makan siangmu yang hangat.

Di bumi ini, cinta itu banyak sekali. Termasuk pada dia yang dua tahun lalu saya temui di lorong gelap lantai atas gedung sekolah kami. Bukan dalam keadaan terbaiknya, mungkin, saat saya melihatnya untuk pertama kali. Dengan seragam kumal, wajah berkeringat dan rambut ikal yang berantakan. Hari itu, memori saya mendapatkan satu hal yang menyenangkan untuk diingat.

Sebuah nama, Faisal Fakhri.



***



Saya adalah pembaca setia novel romansa, dan tidak pernah bisa mengerti bagaimana seseorang bisa jatuh cinta begitu dalam pada pandangan pertama, sampai saya merasakannya sendiri ketika pertama kali melihat laki-laki ini.

Takdir menempatkan kami berkali-kali pada satu garis yang berpotongan, merestui perasaan saya, mengerti bahwa saya akan mulai merindu. Meskipun tak besar harapan yang ingin saya tumpukan kepadanya, namun batin saya yakin bahwa perasaan ini suatu saat nanti tidak akan berakhir hanya dengan bertepuk sebelah tangan.

Saya percaya cinta itu buta.
Saya percaya cinta itu memang diciptakan untuk membodohi kita.
Saya percaya cinta itu bisa mengubah apa saja; semisal keyakinan dan rencana.
Dan saya juga percaya bahwa cinta benar-benar baik, setelah melalui banyak terjal yang membuat saya lebih mengenal isi kepala laki-laki ini sejujur-jujurnya.

Ia mengubah saya begitu banyak. Membuat seorang gadis keras kepala menjadi seorang bocah kecil yang sangat kekanakan, menjadikan seorang perempuan pemikir menjadi lebih rajin merayu Tuhannya. Saya tidak akan pernah menemukan seorang laki-laki yang menyayangi saya seperti caranya menyayangi saya. Memberi saya harapan dan semangat, seperti yang ia selalu berikan dalam hari-hari terberat saya. Ia memahami saya melebihi saya memahami diri sendiri. Ia memperbaiki tanpa menggurui. Mencintai dengan penuh hormat. Tak akan pernah ada yang sepertinya.*



***



"Aku boleh minta sesuatu buat hari ulang tahun aku nanti?"

"Boleh, apa?"

"Ngg, nggak jadi."

"Cincin ya?"

"Kok tau?"

Ia tersenyum.

"Iya, nanti aku nabung dulu. Masih dua bulan lagi."

"Nggak apa-apa aku cuma becanda..."

"Aku usahain."



Mungkin lumrah untuk perempuan lain mengharap sesuatu yang istimewa di hari bahagianya, termasuk saya pada waktu itu. Meski tau bahwa laki-laki ini pun sudah jauh sangat berharga, ego saya menang untuk membuat permintaan yang sampai saat ini masih saya sesali.

Sehari sebelum hari ulang tahun saya, kami bertemu. Ia memberikan sebuah kado. Dalam perjalanan pulang, ia mengatakan banyak hal polos khasnya yang tidak pernah gagal membuat saya tertawa. Sejujurnya, dalam keadaan seperti ini, ada bersamanya lebih lama dari biasanya pun sudah merupakan hadiah yang berharga.

"Kadonya dibukanya di rumah aja ya."

"Iya,"

Sesampainya di rumah, saya membuka kadonya. Isinya adalah sebuah mukena berwarna putih bersalur ungu dan sebuah amplop yang dibuat dari kertas kado bercorak batik. Amplop itu berisi sebuah surat dan satu buah amplop lagi yang terbuat dari kertas putih. Saya yakin saat itu saya pasti tersenyum. Faisal Fakhri dan surat-suratnya, dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan saat menyatakan perasaannya kepada saya pertama kali, ia menggunakan surat dengan kertas warna biru bergambar Doraemon.

"Maaf ya tulisannya jelek, aku nulisnya pas bangun tidur tadi, diiringi hujan rintik-rintik dan mata yang masih sepet. Nyari pulpen nggak ada, jadi pake pensil bekas UN, hehehe,"

Begitu katanya.

Amplop putih itu bagian depannya bertuliskan nama saya menggunakan sedotan hitam yang dipotong-potong dan ditempel sembarang. Sedotan itu, saya ingat ia beli seharga seribu dua ratus rupiah ketika sedang menemani saya mencari bahan untuk membuat usaha kue. Di dalam amplop putih itu, ada lagi sedotan-sedotan yang lain, yang berisi kertas putih, sama persis seperti ketika orang menuliskan nama untuk mengundi pemenang arisan. Saya tertawa.

"Dibukanya satu-satu yah, semoga kamu suka. Dibuatnya tadi malem pas aku lagi chat sama kamu, mangkanya balesnya lama, hehehe. Hand made aku loooh..."

Menuruti instruksinya yang ditulis di bagian belakang amplop putih itu, saya membuka sedotan-sedotan itu satu persatu. Ini isinya:



Words aren't enough to tell how wonderful you are, I love you

Banyak-banyak minum air putih biar sehat biar bisa senyum :)

Masih inget ini ga? "Aku jual kue sus buat aku, kamu dan si buah hati xD"

When my world was dark and blue, I know the only one who rescued me was you

Aku bahagia saat kita bersama berbicara apa saja

Semoga Kuchen sukses makin jaya dan sejahtera :)

Setiap malam sebelum tidur aku selalu membayangkan senyummu hingga aku terlelap

I wanna be tho one who completes your life

I wanna be the one who can make you happy

I cannot stop thinking about you

Tetap tersenyum, tetap tertawa walaupun lagi nahan ee

Maybe you don't need the whole world to love you, maybe you just need one person

Seperti air yag menguap saat hujan, begitu pula sayangku padamu akan terus berulang

Aku bahagia saat kamu tersenyum karena aku

Thank you for supporting me everyday

Jangan lupa sarapan pagi

Jangan kebanyakan makan mie nanti perutnya mengkerut



Saya ingat saat itu begitu bingung oleh perasaan saya sendiri. Saya tertawa dengan air mata yang mengalir deras di pipi. Bahagia ini, meluap bersama perasaan rindu padanya yang seketika jadi begitu banyak.

"Makasih banyak kadonya, aku nggak tau harus seneng atau sedih, makasih buat semuanya..."

"Iya sama-sama. Mukenanya kamu bawa aja ke kantor jadi nanti sholatnya ngga usah nunggu gantian, jadi nggak sering telat lagi. Maaf aku nggak bisa kasih kamu cincin seperti yang kamu mau, aku cuma bisa kasih itu. Selamat ulang tahun ya, semoga kamu sehat terus supaya makin gembil,"

Saya mengangguk sambil tetap menangis. Menangis karena bahagia yang selalu karena ia sebabnya. Tangisan yang sama seperti setiap saat dia bercerita tentang perasaannya di telepon ketika saya pura-pura sudah tertidur, tangisan yang sama seperti saat kami sama-sama mengenang masa ketika kami masih saling mengagumi, tangisan yang sama seperti saat kami bercerita mengenai kegelisahan kami masing-masing.

Laki-laki ini, dengan segala kekurangan dan kelebihannya membuat saya ingin selalu mendampinginya. Ia mengerti, ia mendengarkan. Kami berbagi, kami menjaga. Kami bersama bahkan dari ketika kami sama-sama tidak tau akan menjadi apa. Bersamanya, berjuang terasa menyenangkan. Mempunyai seseorang yang kepadanya bisa kau tunjukkan kekuranganmu sejujur-jujurnya adalah anugerah.

Pada suatu hari, ketika saya mengantarnya ke stasiun setelah ia menemani saya bertemu penulis idola saya, kami berdua kembali berbicara hingga sampai pada topik keluarga dan masa kecilnya. Ia bercerita tentang orang tuanya. Saya menangis.

"Jangan nangis dong,"

"Aku sedih..."

"Sedih kenapa?"

"Kalau nanti kamu rasa aku udah gak baik buat kamu, bikin kamu jadi hancur, bikin kamu bangkang sama orang tua kamu, keluarga kamu, kamu tinggalin aku aja ya,"

Di antara isak saya ia berkata,

"Dengerin, kalau kamu udah gak baik, itu tugas aku buat memperbaiki kamu, kita saling melengkapi, inget?"

Saya mengangguk.

"Kamu tau gak, penulis yang paling hebat, yang tulisannya paling indah di dunia ini?"

"Onyol, hehe,"

"Yee, bukan,"

"Aku, hehe,"

"Bukan,"

"Siapa?"

"Allah."

Saya tersenyum sejenak lalu kembali merasakan dada saya sesak. Di antara isak saya yang semakin kencang ia berkata,

"Kita nggak tau akan berakhir gimana, yang penting kita jalanin aja dengan sungguh-sungguh. Kita percayakan aja sama Dia, penulisnya. Suatu saat nanti, dia pasti ngasih akhir yang indah,"

Saya mengangguk sambil menahan diri untuk tidak meneriakkan bahwa sangat saya menyayanginya. Di restoran cepat saji itu, Sang Penulis kembali memberikan saya sedikit kejelasan tentang posisi apa yang sangat ingin saya perankan dalam hidup laki-laki ini suatu saat nanti.



***



Perihal percintaan, kelak jika sudah tiba saatnya, kita akan menemukan seseorang yang membuat kita begitu nyaman, begitu yakin dan enggan untuk mencari-cari lagi. Katanya, jodoh itu ada yang ditunggu sambil memantaskan diri, ada yang dipilih lalu diperjuangkan.

Faisal Fakhri, saya memilih kamu.

Saya beruntung memiliki mata yang berbeda dengan orang lain yang memandang kamu hanya dengan sebelah mata mereka. Saya bersyukur dijatuhkan hatinya kepada kamu oleh Sang Penulis hidup kita. Saya tersanjung diperlakukan berbeda dengan perempuan-perempuan lain yang dimanjakan oleh perayaan-perayaan, hadiah, dan yang lainnya yang bermakna biasa. Saya senang menampung segala lelah dan gundah kamu. Saya bangga mengetahui impian-impian terbesar kamu dan menemani kamu mewujudkannya.

Kepada ibu dan ayahmu, saya berterimakasih telah melahirkan dan membesarkan kamu hingga hari itu bertemu dengan saya. Kini, biarkan saya sedikit mengambil tugas mereka untuk menjaga kamu. Semoga mereka berkenan.

If you have the biggest dream, Faisal Fakhri, I want to be the part of it.

Terima kasih untuk semuanya yang tak pernah kamu merasa memberi, tapi sungguh saya menerima banyak. Debar-debar yang Sang Penulis tiupkan ke dada saya saat pertama kali kita bertemu, bahagia yang saya rasakan ketika menyadari bahwa perasaan saya sepenuhnya terbalas saat itu, adanya kamu yang menemani hari hari saya hingga detik ini, segala perasaan ini, semoga tetap suci dan tidak akan pernah diambil kembali oleh Pemiliknya.

Selamat tanggal dua puluh empat, Faisal Fakhri. Hari ini, kita kembali berhasil meniti satu dari ribuan langkah yang telah kita susun dalam menapaki jalan yang kita pilih. Tidak apa jika harus berliku dan terjal, asal kumohon tidak berakhir di persimpangan atau dibuntukan takdir.

We'll always be together
Somewhere
Someday
Somehow



Komentar

  1. Makasih banyak yah buat tulisannya senyum senyum sendiri walau lagi asistensi hahahahaha.

    Thanks for made beutiful memories in my life :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer