KARINA : Aku melihat Ayah.
Cahaya itu akhirnya menembus mataku
Tuhan,
haruskah aku bersyukur atau membenciMu?
Dua hari setelah hari ulang tahunku, Ayah membawaku
menemui Dokter Gerry. Setelah melewati serangkaian tes, aku dinyatakan cocok
sebagai recipient. Aku mulai menjalani operasi tiga hari kemudian, dan inilah
saatnya, hari ini, aku akan melihat dunia dengan kornea pemberian pendonor baik
hati itu.
Kornea mata yang kini menempel di mataku adalah
milik seorang laki-laki. Menurut Dokter Gerry, ia adalah seorang penderita meningitis4 akut yang
terpaksa euthanasia5
karena tidak menunjukkan perubahan yang signifikan selama enam bulan dirawat di
rumah sakit. Dari tempatku terbaring saat ini, di rumah sakit yang sama ketika
ia menghembuskan napas terakhirnya, aku panjatkan doaku yang tertulus agar Sang
Maha Melihat berkenan memeluknya erat dan menyampaikan rasa terima kasihku yang
mendalam kepada laki-laki itu.
“Karina, saya buka perbannya ya. Tapi nanti kamu
harus sabar, kamu harus membuka mata kamu dengan sangat pelan-pelan, karena
kamu belum terbiasa dengan cahaya sekitar.”
“Boleh tunggu sebentar, Dok? Ayah saya sedang ke
luar makan siang, saya mau wajah Ayah yang pertama kali saya lihat saat saya
membuka mata nanti,”
“Oh, ya, tentu. Saya akan kembali satu jam lagi.”
Satu jam lagi. Satu jam yang paling mendebarkan
selama dua puluh tahun hidupku di dunia. Aku akan melihat Ayah. Aku akan
bertemu Bu Dean, guru privatku semenjak SD yang sudah kuanggap sebagai ibuku
sendiri. Aku akan bertemu nenek dan kakekku di Bandung. Aku bisa melakukan
banyak hal seperti kebanyakan orang. Satu jam lagi, aku akan dilahirkan kembali!
“Hai, Sayang, maaf Ayah lama, tadi abang nasi
gorengnya kehabisan gas, jadi ayah harus tunggu dulu deh. Makanan kamu sudah
dimakan?”
“Iya gakpapa, udah kok, Yah. Oiya, tadi Dokter
Gerry ke sini, katanya perban mata Karin udah bisa dibuka, tapi tadi Karin
bilang Karin mau tunggu Ayah dulu,”
“Oh ya? Alhamdulillah,
yaudah Ayah panggil Dokter Gerry dulu ya, Sayang. Tunggu sebentar,”
“Iya, Ayahku yang baik,”
Ayah mengecup keningku lalu bergegas menemui Dokter
Gerry. Tak lama, pintu kembali terbuka dan aku mendengar suara roda rak
peralatan medis bergerak ke samping kanan tempat tidurku. Dadaku kembali
berdebar.
“Oke, Karin, are
you ready?”
“Never,”
“You have to,
Nak. Saya buka perbannya ya.”
Aku tersenyum. Tanganku menggenggam tangan Ayah
dengan begitu kuat. Kalian tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana
perasaanku. Saat seperti ini, dikejutkan sedikit pun mungkin jantungku akan
keluar. Aku sangat, amat, begitu antusias sekali.
Seseorang melepaskan plester di pelipis kananku.
Aku merasakan perlahan lapisan perban itu dibuka mengelilingi kepalaku. Setiap
putarannya seperti mengaktifkan hormon-hormon adrenalin di dalam tubuhku lebih
banyak lagi, membuatku ingin menggenggam tangan Ayah semakin erat.
Kembali aku menghadirkan sosok Ayah yang selama ini
kubayangkan. Akankah sama seperti yang ada di dalam hayalanku? Ataukah sangat
berbeda? Aku tidak peduli. Aku akan tetap mencintainya bagaimanapun rupanya.
Sungguh.
Aku membayangkan rumahku. Aku ingin sekali melihat
warna baju-bajuku, boneka-boneka yang dibelikan Ayah, menonton televisi dengan
berbagai macam acara dengan artis-artisnya. Kurasa aku akan kembali menjadi
anak kecil berumur lima tahun yang cerewet dan banyak ingin tau tentang dunia.
Kuharap Ayah akan sabar menghadapiku. Aku yakin ia akan sabar.
Putaran perban itu telah habis. Aku bisa merasakan
Ayah mengelus rambut panjangku dengan leluasa. Kini yang tersisa hanya perban
yang menutup kedua kelopak mataku. Seseorang membukanya, dimulai dari mata
kananku, lalu mata kiriku. Aku merasakan ada cairan dingin dioleskan
mengelilingi kelopak mataku, ke bawah mata, ke pelipis. Rasanya segar sekali.
“Silakan buka mata kamu, Karina. Ingat, pelan-pelan
ya,”
Ya Tuhan, kini jarak mataku dan “dunia baruku”
hanya dibatasi oleh kelopak mata.
Rasanya berat sekali membuka mata setelah terpaksa
terpejam selama berhari-hari. Di sisi lain aku mensyukurinya, karena setidaknya
itu menghalangiku membuka mata cepat-cepat karena antusias.
Perlahan aku mulai melihat cahaya. Seketika ada
pusing yang menyerang kepalaku. Aku mengernyitkan dahi, mengedip-ngedip kelopak
mataku perlahan. Buram.
“Lebih pelan lagi, Karina. Sabar,”
Aku menutup mataku, lalu membukanya kembali lebih
perlahan dari sebelumnya. Kini aku bisa melihat dinding, lalu menurunkan
pandanganku ke arah tanganku yang digenggam Ayah. Kutelusuri lengan yang
menggenggam tanganku itu, lalu berhenti di wajahnya.
Dadaku berdegup kencang.
“Selamat melihat dunia, Karina Sayang.”
4. Penyakit radang selaput otak
5. Upaya mempercepat kematian yang diberikan pada
saat keadaan penyakit pasien sudah sangat parah atau sudah sampai pada stadium
akhir, yang menurut perhitungan medis sudah tidak mungkin lagi bisa sembuh atau
bertahan lama



Komentar
Posting Komentar