KARINA : Aku melihat Ayah.




Cahaya itu akhirnya menembus mataku
Tuhan,
haruskah aku bersyukur atau membenciMu?




Jakarta, 10 Maret 2000




Dua hari setelah hari ulang tahunku, Ayah membawaku menemui Dokter Gerry. Setelah melewati serangkaian tes, aku dinyatakan cocok sebagai recipient. Aku mulai menjalani operasi tiga hari kemudian, dan inilah saatnya, hari ini, aku akan melihat dunia dengan kornea pemberian pendonor baik hati itu.

Kornea mata yang kini menempel di mataku adalah milik seorang laki-laki. Menurut Dokter Gerry, ia adalah seorang penderita meningitis4 akut yang terpaksa euthanasia5 karena tidak menunjukkan perubahan yang signifikan selama enam bulan dirawat di rumah sakit. Dari tempatku terbaring saat ini, di rumah sakit yang sama ketika ia menghembuskan napas terakhirnya, aku panjatkan doaku yang tertulus agar Sang Maha Melihat berkenan memeluknya erat dan menyampaikan rasa terima kasihku yang mendalam kepada laki-laki itu.

“Karina, saya buka perbannya ya. Tapi nanti kamu harus sabar, kamu harus membuka mata kamu dengan sangat pelan-pelan, karena kamu belum terbiasa dengan cahaya sekitar.”

“Boleh tunggu sebentar, Dok? Ayah saya sedang ke luar makan siang, saya mau wajah Ayah yang pertama kali saya lihat saat saya membuka mata nanti,”

“Oh, ya, tentu. Saya akan kembali satu jam lagi.”

Satu jam lagi. Satu jam yang paling mendebarkan selama dua puluh tahun hidupku di dunia. Aku akan melihat Ayah. Aku akan bertemu Bu Dean, guru privatku semenjak SD yang sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Aku akan bertemu nenek dan kakekku di Bandung. Aku bisa melakukan banyak hal seperti kebanyakan orang. Satu jam lagi, aku akan dilahirkan kembali!

“Hai, Sayang, maaf Ayah lama, tadi abang nasi gorengnya kehabisan gas, jadi ayah harus tunggu dulu deh. Makanan kamu sudah dimakan?”

“Iya gakpapa, udah kok, Yah. Oiya, tadi Dokter Gerry ke sini, katanya perban mata Karin udah bisa dibuka, tapi tadi Karin bilang Karin mau tunggu Ayah dulu,”

“Oh ya? Alhamdulillah, yaudah Ayah panggil Dokter Gerry dulu ya, Sayang. Tunggu sebentar,”

“Iya, Ayahku yang baik,”

Ayah mengecup keningku lalu bergegas menemui Dokter Gerry. Tak lama, pintu kembali terbuka dan aku mendengar suara roda rak peralatan medis bergerak ke samping kanan tempat tidurku. Dadaku kembali berdebar.

“Oke, Karin, are you ready?”

Never,”

You have to, Nak. Saya buka perbannya ya.”

Aku tersenyum. Tanganku menggenggam tangan Ayah dengan begitu kuat. Kalian tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana perasaanku. Saat seperti ini, dikejutkan sedikit pun mungkin jantungku akan keluar. Aku sangat, amat, begitu antusias sekali.

Seseorang melepaskan plester di pelipis kananku. Aku merasakan perlahan lapisan perban itu dibuka mengelilingi kepalaku. Setiap putarannya seperti mengaktifkan hormon-hormon adrenalin di dalam tubuhku lebih banyak lagi, membuatku ingin menggenggam tangan Ayah semakin erat.

Kembali aku menghadirkan sosok Ayah yang selama ini kubayangkan. Akankah sama seperti yang ada di dalam hayalanku? Ataukah sangat berbeda? Aku tidak peduli. Aku akan tetap mencintainya bagaimanapun rupanya. Sungguh.

Aku membayangkan rumahku. Aku ingin sekali melihat warna baju-bajuku, boneka-boneka yang dibelikan Ayah, menonton televisi dengan berbagai macam acara dengan artis-artisnya. Kurasa aku akan kembali menjadi anak kecil berumur lima tahun yang cerewet dan banyak ingin tau tentang dunia. Kuharap Ayah akan sabar menghadapiku. Aku yakin ia akan sabar.

Putaran perban itu telah habis. Aku bisa merasakan Ayah mengelus rambut panjangku dengan leluasa. Kini yang tersisa hanya perban yang menutup kedua kelopak mataku. Seseorang membukanya, dimulai dari mata kananku, lalu mata kiriku. Aku merasakan ada cairan dingin dioleskan mengelilingi kelopak mataku, ke bawah mata, ke pelipis. Rasanya segar sekali.

“Silakan buka mata kamu, Karina. Ingat, pelan-pelan ya,”

Ya Tuhan, kini jarak mataku dan “dunia baruku” hanya dibatasi oleh kelopak mata.

Rasanya berat sekali membuka mata setelah terpaksa terpejam selama berhari-hari. Di sisi lain aku mensyukurinya, karena setidaknya itu menghalangiku membuka mata cepat-cepat karena antusias.

Perlahan aku mulai melihat cahaya. Seketika ada pusing yang menyerang kepalaku. Aku mengernyitkan dahi, mengedip-ngedip kelopak mataku perlahan. Buram.

“Lebih pelan lagi, Karina. Sabar,”

Aku menutup mataku, lalu membukanya kembali lebih perlahan dari sebelumnya. Kini aku bisa melihat dinding, lalu menurunkan pandanganku ke arah tanganku yang digenggam Ayah. Kutelusuri lengan yang menggenggam tanganku itu, lalu berhenti di wajahnya.

Dadaku berdegup kencang.

“Selamat melihat dunia, Karina Sayang.”





4. Penyakit radang selaput otak

5. Upaya mempercepat kematian yang diberikan pada saat keadaan penyakit pasien sudah sangat parah atau sudah sampai pada stadium akhir, yang menurut perhitungan medis sudah tidak mungkin lagi bisa sembuh atau bertahan lama

Komentar

Postingan Populer