Happiness
"Happiness is a journey, not a destination."
- Ben Sweetland
Untuk kita yang kerap merindukan diri sendiri.
Untuk kita yang kerap merasa asing.
Untuk kita yang merasa tak henti mencari-cari.
Untuk kita yang sering teramat letih tanpa alasan.
Untuk kita yang merasa masih jauh dari impian.
***
Akhir-akhir ini, hati saya sering terguncang entah karena apa. Awalnya saya pikir, ini cuma perasaan tidak enak biasa yang mungkin adalah "balasan" atas perlakuan saya yang kurang baik terhadap orang lain. Saya punya semacam "perjanjian" dengan Tuhan saya, jika saya mulai menjauhiNya, saya meminta Dia untuk menampar saya sekeras mungkin dan mendekap saya kembali. Tamparan itu, bisa berupa masalah, kegundahan hati, atau kenyataan dari dunia sekitar saya yang membuat saya merasa sakit. Apapun itu, selalu saya jalani dengan lapang hati, karena saya percaya setelah ini, saya akan didekap kembali.
Saya mengerti bahwa kehidupan keras sekali tanpa kita sadari. Seiring berjalannya waktu, apa yang sedari kecil kita bayangkan atau kita tonton akan benar-benar kita alami sendiri. Lulus dari sekolah, bekerja meniti karier, mengenal banyak orang, menemukan pendamping hidup, bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Semua itu, mau tidak mau harus terjadi dan dijalani, bukan untuk disepelekan lalu dilewati seperti sedang berjalan lalu kamu menghindari duri yang menghalangi jalanmu. Tidak, tidak seperti itu. Jika kamu tidak tertusuk di awal perjalanan, kamu tidak akan pernah tau bagaimana caranya dan rasanya sembuh. Padahal, di depan sana, bukan lagi duri kecil yang akan menantimu, melainkan sebilah pedang yang siap menusuk ulu hatimu, yang bisa jadi dihujamkan oleh orang terdekat yang selama ini kamu percayai. Bisa satu, bisa banyak. Bisa satu persatu, bisa bersamaan.
Dulu, saya adalah seorang pengkhayal dan penyesal pada waktu yang sama. Saya selalu merindukan masa-masa dahulu saya yang membanggakan, juga senang membayangkan masa depan yang indah yang saya impikan. Kini, setelah saya berpikir lagi, kedua hal itu sama menyedihkannya. Sama-sama membuat saya tidak bisa mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan kepada saya, yang saya miliki hari ini. Membuat saya menjadi seseorang yang merasa tidak pernah cukup, tidak pernah puas, tidak pernah merasa sampai. Padahal, keindahan mungkin akan kita temui di tujuan, tapi pembelajaran akan kita dapatkan di perjalanannya. Dan saya sering melewatkan itu.
Pemikiran ini, saya dapatkan dari banyak orang yang saya temui di jalan. Saya percaya setiap orang itu baik, hanya saja ada yang terlihat dan yang tidak, dan Tuhan memberikannya dengan kadar yang berbeda pada setiap hati mereka. Ada yang nalarnya mendominasi sehingga sulit berempati, ada yang hatinya mendominasi sehingga begitu mudah dipengaruhi, ada yang emosinya mendominasi sehingga menjadi arogan.
Ada petugas kebersihan yang selalu bershalawat ketika sedang menyapu jalan.
Ada seorang nenek yang meminta-minta sisa daging dari pedagang ayam potong untuk kemudian ia berikan kepada kucing-kucing jalanan, lalu ia berbicara pada kucing-kucing itu seperti sedang berbicara kepada anak-anak.
Ada seorang penjual gorengan yang dengan bangga bercerita kepada saya bahwa anaknya bisa bersekolah di SMA kotamadya karena pintar.
Ada bapak penjual kapuk, bale bambu, sol sepatu, dan pengayuh becak yang rasa syukurnya luar biasa.
Itu hanya sebagian kecil dari orang-orang yang saya temui yang bisa membuat hati saya bergetar dan tertampar. Mungkin kamu bukan manusia jika bertemu orang-orang seperti mereka, kamu tidak merasakan efek apa-apa.
Saya mungkin tidak bisa sekuat mereka. Tapi saya tau bagaimana bisa menjadi seperti mereka. Memiliki hati yang selalu ingin memberi banyak, dan mensyukuri apa yang diterima dan merasa cukup. Berekspektasi dan berambisi secara keterlaluan hanya akan membuat saya menyakiti diri sendiri.
Saya ingin menjadi orang yang mencari bahagia dengan ketenangan, bukan euforia dan tawa yang berlebihan.
Saya ingin hidup untuk orang-orang yang mencintai saya, bukan untuk orang-orang yang semata-mata hanya membutuhkan saya.
Saya ingin membahagiakan orang-orang yang selalu ada bersama saya, bukan menyenangkan orang-orang yang tidak pernah peduli kesedihan saya.
Saya ingin sehat, saya ingin orang-orang yang menyayangi saya bisa memiliki saya lebih lama.
***
Saya bukan lagi yang mengeluh capek bekerja ketika ibu saya membangunkan saya yang tertidur lagi setelah subuh. Padahal, rasa kantuk saya karena begadang membaca sesuatu yang tidak penting.
Saya bukan lagi yang pulang larut malam membuat ayah saya cemas sampai menunggu di depan gang rumah, tiba di rumah melihat ibu dan adik yang sudah tertidur. Kini, pemandangan pulang kerja saya adalah ibu yang sedang menonton televisi dan ayah yang baru pulang dari masjid bersama adik.
Saya ingin selalu seperti ini, berbincang dengan keluarga, mempunyai lebih banyak waktu bersama mereka. Tidak ada yang saya keluhkan lagi karena saya tahu dimana kebahagiaan saya dirumahkan. Tidak ada yang saya sesalkan lagi karena saya tahu untuk apa segala lelah saya ini saya rasakan. Untuk mereka, keluarga saya yang menunggu di rumah.
Setiap pagi buta ketika saya terbangun dan hendak mengambil air wudhu, saya melewati kamar orangtua saya. Di atas ranjang besi berukuran besar, ayah, ibu dan adik saya tertidur. Saya selalu, tak pernah tidak, diam sebentar memperhatikan wajah mereka. Awalnya saya menangis, tapi akhir-akhir ini sudah tidak begitu sering. Entah, saya rasa meski belum cukup, setidaknya belakangan ini, saya sudah berjanji untuk selalu memberikan apapun dari diri saya untuk mereka. Kini, saya hidup untuk mereka.
Saya punya mimpi, hidup bahagia dengan berkecukupan bersama keluarga. Bersama orang tua yang sehat dan seorang adik yang terjamin pendidikannya. Tidak selalu dengan memanjakannya dengan harta, tapi waktu, perhatian, dan bakti saya.
Saya menikmati hari-hari saya bersama orang-orang yag mencintai saya. Menghargai momen-momen berharga dengan mereka. Saya tidak ingin lagi mengabaikan mereka dengan alasan menggapai sesuatu yang besar yang bisa membanggakan mereka, yang bahkan saya pun tidak sepenuhnya yakin bisa menggapainya. Saya tidak ingin menunggu untuk membahagiakan mereka. Saya ingin hidup hari ini, dengan hanya waktu yang bisa saya berikan untuk mereka, dengan banyak kasih sayang tulus yang mereka berikan untuk saya.
Bahagia adalah perjalanan, bukan tujuan. Happiness is a journey, not a destination.


Komentar
Posting Komentar