Ayah
"Dad is a son's first hero, a daughter's first love."
Sebuah sore di pertengahan Februari.
Hujan baru saja reda. Genangan air di jalanan yang membuat langkahku melompat-lompat, melindungi sepatu cokelat berbahan kulit sintetis yang kupakai. Jalanan ini yang--entah sudah berapa ratus kali--kulewati tak pernah berubah. Kedai-kedai makanan yang baru berdiri setelah pukul lima sore, mobil-mobil para orang kaya yang mengantre menanti portal jalur kereta listrik dibuka, dan jejeran minimarket yang cahaya lampunya menyilaukan.
Seorang pria berjaket kulit tersenyum padaku saat berpapasan di sebuah gang sempit. Dari balik punggungnya, aku melihat gerbong terakhir berlalu. Aku berjalan, melangkahi rel satu persatu, berpijak pada kerikil yang baru saja bergesekan menahan getar laju kereta. Air hujan membuat warna batu-batu kecil itu terlihat berwarna kelabu tua mengkilap.
Sebuah angkutan umum berhenti. Aku naik, duduk di pojok kanan sebelah jendela; jejeran bangku yang sejajar dengan bangku kemudinya. Titik-titik air masih terlihat menempel di jendela, beberapa mulai menetes, menguap, lalu dihilangkan angin perlahan-lahan.
Aku sibuk tenggelam dalam imajinasiku tentang novel trilogi seri pertama yang beberapa hari ini kubaca. Tepat saat Rhine, tokoh utama sedang mencoba kabur dari rumah yang memenjarakannya, imajinasiku buyar karena sebuah suara dari penumpang yang duduk di sebelah kananku, tepat di belakang bangku supir, dekat sekali.
"Ayah, sakit..."
Aku menoleh. Itu suara seorang anak laki-laki. Anak itu tidak lebih besar dari adikku, mungkin sekitar berumur lima atau enam tahun. Ia memegangi pipinya sambil merunduk. Kupikir mungkin anak itu sedang sakit gigi. Ayahnya yang sedang mengobrol dengan supir melingkarkan lengannya ke pundak anak itu, tak sengaja membuat bahu kecil itu tersibak karena baju kebesaran yang dipakainya. Entah milik siapa.
Sejenak aku kembali ke halaman buku yang sedari tadi kutandai dengan jari. Namun, langit yang mulai gelap menyulitkanku membaca. Kututup bukuku, lalu bersandar pada jendela, menatap titik-titik hujan yang mulai turun lagi.
Tubuhku menghadap pada anak itu. Sekarang ia sudah terlihat kembali ceria, memainkan bola plastik yang kelihatan masih baru, sambil memegangi sebuah kantong plastik putih yang entah apa isinya. Beberapa saat kemudian, ia merogoh mulutnya seperti hendak meraba sesuatu yang tertinggal di geraham kirinya, lalu mengeluh lagi, kali ini dengan rengekan kecil. Ayah dan anak itu berpelukan lagi. Manis sekali.
"Mangkanya jangan galak sama ayah, makan sama ayah, mandi sama ayah, kalau sakit sama ayah, tapi suka jahat sama ayah..."
Dari kalimatnya, aku bisa menyimpulkan bahwa mereka hanya hidup berdua. Mungkin anak itu memiliki saudara, adik atau kakak, namun kupastikan ia sudah tidak tinggal bersama ibunya.
Aku memperhatikan mereka. Anak itu memakai kaus oblong berwarna cokelat dan celana merah selutut dengan sablon yang sudah terkelupas di berbagai sisinya. Kupikir, mungkin itu adalah gambar kartun seekor domba. Sandal karetnya berwarna biru, terlihat sobek di bagian sisi sebelah kanan. Rambutnya rapi, wajahnya juga bersih. Hanya saja ia terlihat begitu kurus.
Ayahnya memakai topi hitam. Kemeja kusut berwarna putih yang dipakainya menerawang tubuhnya yang lebih kecil dari ukuran kemeja itu. Celana hitamnya digulung sampai betis, membuat sandal karet yang dipakainya terlihat jelas. Sama basah dan kotornya dengan sandal karet mungil berwarna biru di sebelahnya. Tangan kanannya memegang payung besar yang dilipat sembarang, tangan kirinya memeluk anaknya yang sedang kembali merengek.
Pemandangan ini, dan suara anak kecil itu; begitu polos dan memilukan, membuat tenggorokanku tercekat. Ada sakit di dadaku yang entah dimana tepatnya. Mataku panas, ada sesuatu yang menggenang di sana.
Kualihkan pandanganku dan air mataku mengering dengan cepat. Air hujan menghalangi pemandangan di luar jendela. Karenanya, aku memilih untuk memperhatikan kendaraan ini. Bagian dalamnya berwarna kuning pucat dengan coretan spidol dimana-mana. Supirnya memakai kaus bergambar sepasang calon presiden di bagian punggung, sisa kampanye tahun lalu.
"Anak saya mah udah gede, yang paling kecil SMP kelas satu di dua belas,"
Dari tempatku duduk, aku bisa melihat kerutan di pelipisnya ketika tertawa. Tubuhnya membungkuk ketika terbatuk oleh asap rokok yang ia hembuskan sendiri. Seorang ayah yang mencoba tak jenuh dengan kegiatan rutinnya membiayai keluarga. Tepatnya, dua orang ayah yang sedang berbagi beban, menertawakannya.
Ayah.
Saat ini, ayahku pasti sedang terbaring di tempat tidur. Terlalu enggan untuk bergerak karena luka di perut bawahnya yang belum sepenuhnya kering. Sepekan yang lalu, pada waktu sekarang ini, ia sedang meracau sambil memelukku, menahan sakit karena bius lokalnya habis pascaoperasi. Dan aku yang masih merasa terlalu kecil untuk berbakti dengan mengurusnya, hanya bisa terdiam. Berusaha mengelapi keringatnya, dengan dada yang sesak, seperti sama sakit dengan luka basahnya.
Sepanjang malam ia tak tidur. Terus meracau dan mengeluh, memintaku terus mengaji dengan langgam yang masih terdengar janggal. Aku malu namun itu menenangkan, katanya.
Ayahku bekerja keras saat aku masih berada di dalam kandungan ibuku, meskipun pada akhirnya aku hanya bisa pulang dari rumah bidan berselimutkan kain sarung lusuhnya yang sudah berbulu.
Ayahku menemaniku saat operasi saluran kencing ketika umurku masih tiga tahun.
Ayahku tak pulang setelah ia dipecat dari pekerjaannya, kemudian pulang membelikanku dua pasang baju.
Ayahku menyalakan lampu kamarku pada malam hari, menyeka keringatku dan menepuk nyamuk-nyamuk yang berusaha menggigitku.
Ayahku tidak makan siang demi membayar biaya study tourku.
Ayahku demam setelah pulang dengan membawa kain-kain dagangannya yang basah karena hujan.
Ayahku menungguku di depan gang rumah pada suatu malam, lalu menghampiriku dengan langkah terseok menahan sakit seraya bertanya mengapa aku pulang begitu larut.
Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku setiap kali aku membayangkannya. Memaksaku meledakkannya melalui mataku. Namun aku yakin, semua ini tak jauh lebih sakit daripada perasaan ayahku saat berkali-kali, tanpa terhitung sepanjang hidupku, aku mengecewakannya. Tapi hatinya begitu luas, sabar dan pemaklumannya tanpa batas.
Dalam darah kita semua mengalir darahnya. Ia yang menjadikan lukamu adalah lukanya, sakitmu adalah sakitnya, dan kebahagiaanmu, segala hal yang mencukupkanmu yang kadang tak kau sadari adalah hasil jerih payahnya.
Dan inilah yang kujalani setiap hari; Tuhan mendewasakan aku dengan caranya.
Hari ini, Dia mengajarkanku arti berbakti.



Komentar
Posting Komentar